PENDIDIKAN YANG MENUMBUHKAN
Berikut ini adalah catatan ringkas dari sambutan Bapak Anies Rasyid Baswedan, mantan menteri pendidikan yang sekarang menjabat sebagai gubernur Jakarta ketika membuka acara Education Expo ASESI (Asosiasi Sekolah Sunnah Indonesia) di TMII tanggal 29 Oktober 2017.
Pendidikan adalah tentang masa depan. Pendidikan adalah tentang
menyiapkan generasi baru. Pendidikan bukanlah membentuk, tapi pendidikan adalah
menumbuhkan. Karena ia menumbuhkan, maka hal yang fundamental yang dibutuhkan
adalah tanah yang subur dan juga iklim yang baik.
Kalau kita membayangkan anak- anak itu sebagai bibit (biji), maka biji
itu tidak kelihatan batangnya, tidak kelihatan akarnya, dan tidak kelihatan
daunnya karena ia masih biji. Sehebat apapun sebuah biji, maka tidak akan
kelihatan semua komponennya. Namun nanti ketika biji tanaman itu sudah tumbuh
berkembang, maka akan terlihat batangnya, akan terlihat daunnya, akan terlihat
buahnya, akan terlihat bunganya. Tapi saat itu masih berupa biji belum
terlihat.
Kadang-kadang kita melihat biji seperti melihat tanaman yang lengkap.
Lalu kita ingin biji ini punya semuanya. Punya bunga dan lainnya. Tentu tidak
bisa.
Untuk menjadi tumbuhan yang lengkap, biji itu memerlukan waktu,
memerlukan proses penumbuhan. Biji yang baik juga membutuhkan lahan yang subur.
Di mana lahan yg subur itu?
Di antaranya:
1. Di rumah. Rumahnya harus menjadi lahan yang subur.
2. Di sekolah.
3. Di antara rumah dan sekolah, yaitu di lingkungannya.
Karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan maka bayangkan seperti
kita menumbuhkan biji itu. Karena itu saya sering mengatakan jangan gunakan
kata membentuk, apalagi kalau akhlaq. Akhlaq itu ditumbuhkan,karakter itu
ditumbuhkan tidak bisa dibentuk.
Dulu saat kita sekolah pasti pernah praktek biologi tentang dua tanaman
yang satu dipasang dekat matahari, yang satu jauh dari matahari. Beloknya beda
bukan? Bibitnya sama, tanahnya sama, potnya sama, arah tumbuhnya sama tidak?
Maka jawabannya tidak sama. Jadi kita mau belok kanan- belok kiri itu bukan
daunnya yang dibelokkan, tapi rangsangannya yang berbeda. Cuacanya diatur,
lokasinya diatur. Karena itu mengelola sebuah sekolah, mengelola sebuah
intitusi pendidikan itu adalah mengelola rekayasa.
Sebagai contoh, di rumah kita bisa menjadikan anak kita menjadi anak
yang individualis atau anak yang dekat dengan saudara-saudaranya.
Misalnya sebuah keluarga dengan empat anak. Kita buat setiap kamar ada
kamar mandinya agar semuanya rapi bersih semua. Kamar mandi di dalam kamar.
Sementara keluarga yang lain, dengan empat anak juga memiliki rumah dengan
kamar mandi satu, di luar kamar. Maka apa yang terjadi? Keluarga yang pertama
anak-anaknya tumbuh individualis. Semuanya diselesaikan sendiri. Keluar kamar
semua sudah bersih.
Sedangkan keluarga kedua, anak-anak tiap hari rebutan kamar mandi: Ada
yang sikatannya lama, ada yg kalau mandi harus diketok-ketok, ada yang sering
samponya ketinggalan. Mereka akan tumbuh berbeda dengan anak-anak di keluarga
pertama.
Oleh karena itu jangan bayangkan pendidikan itu sesuatu yang tertulis,
dibaca, dihafalkan, lalu diuji. Karena pendidikan itu adalah proses pembiasaan.
Jadi kita bisa merancang anak kita sesuai skenario yang kita buat.
Karena itu kemewahan keluarga dan kemewahan institusi pendididkan adalah
bagaimana membuat aturan main yang membentuk perilaku.
Saya berharap kita yang bergerak dalam bidang pendididkan memikirkan
rekayasa itu. Sekolah kita hari ini: anaknya abad 21, gurunya abad 20, ruang
kelasnya abad 19.
Kalau mau memikirkan sekolah dan pendidikan, maka pikirkanlah masa
depan. Rekayasalah untuk masa depan. Umat islam gagal atau berhasil bukan
masalah mampu dan tidak mampu, tapi bagaimana cara mengantisipasi perubahan.
Ini PR -nya.
Karena itu kalau mengukur keberhasilan anak-anak kita sekarang kita
jangan lihat hari ini. Bijinya di nilai nanti kalau sudah tumbuh baru akan
nampak dan bisa dinilai, biji, daunnya, dan batangnya.
Jangan terlalu puas dengan penilaian hari ini. Penilaiannya besok,
karena inilah proses penumbuhan. Sehingga kami berharap Anda yang mengelola
bidang pendidikan jangan puas dengan ukuran hari ini dan siapkan masa depan.
Dalam proyeksi pendididkan abad 21 ada 3 komponen yang mendasar:
1. Karakter/akhlaq
a. karakter moral (iman, taqwa, jujur, rendah hati)
b. karakter kinerja (ulet, kerjakeras, tangguh, tidak mudah menyerah, tuntas)
2. Kompetensi (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif /
kerjasama)
3. Literasi/Keterbukaan wawasan (baca, budaya, teknologi, keuangan)
Di masa sekarang, dalam ujian anak-anak disuruh menjawab pertanyaan di
sebuah kertas. Di masa depan mungkin ujian hanya dengan kertas kosong tanpa
pertanyaan.
Tukang pos bersaing dengan teknologi: WA, email. Profesi hari ini belum
tentu di masa depan masih ada, sehingga tanyakan kepada anak-anak besok mau
membuat apa. Jangan bertanya mau jadi apa.
Pengelola
pendidikan jangan terpukau dengan cerita masa lalu, tapi gelisahlah dengan masa
depan. Kemenangan itu disiapkan di ruang keluarga dan di ruang kelas.
NB: Catatan ini
dinukil dari grup ASESI dengan sedikit penyesuaian
Komentar
Posting Komentar